MEMAKSIMALKAN PERAN AYAH SEBAGAI WAL ABU MUDIIRUHA
Kali pertama saya mendengar kalimat Al-Ummu Madrasatul Ula pada saat saya menempuh jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama di salah satu pondok pesantren di kota Madiun. Al-Ummu Madrasatul Ula, yakni Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya merupakan maqola atau istilah Bahasa Arab yang membangkitkan ruh saya serta menyadarkan saya atas haq diri saya dan keluarga saya kelak.
Maqola ini kemudian memperjalankan saya pada perjalanan memaknai hakikat Al-Ummu Madrasatul Ula. Perjalanan ini membawa saya menjadi hamba yang terus belajar dengan harapan menjadi Al-Ummu Madrasatul Ula yang bisa dibanggakan kelak, insyaalloh. Pada perjalanan inilah, saya merasa pada kalimat Al-Ummu Madrasatul Ula terdapat ketidak sempurnaan. Ketidak sempurnaan yang saya rasakan adalah, ketika Al-Ummu Madrasatul Ula sering kali dijadikan pembelaan laki-laki terhadap haq nya dalam memberikan pendidikan terhadap anak sebagai calon ayah atau saat sudah menjadi ayah. Hal ini dibuktikan dengan kondisi kebanyakan keluarga pada era 5.0 ini. Pada era ini, seolah-olah peran mendidik anak merupakan sepenuhnya menjadi tugas Ibu. Al-Ummu Madrasatul Ula sebagai wujud pembelaan yang dilakukan para ayah terhadap haq mereka dalam mendidik anak seringkali membuat saya bungkam. Ini disebabkan keterbatasan pengetahuan saya yang pada saat itu hanya sampai Al-Ummu Madrasatul Ula.
Ketidak sempurnaan yang saya rasakan pada kalimat Al-Ummu Madrasatul Ula kemudian kembali memperjalankan saya pada makna kesempurnaan kalimat tersebut. Hingga pada satu waktu, saya menemukan kutipan yang berisi maqola Al-Ummu Madrasatul Ula. Tapi kali ini berbeda, saya merasakan kesempurnaan pada kalimat tersebut. Al-Ummu Madrasatul Ula yang saya baca tidak sendirian, kalimat tersebut dilanjutkan dengan Wal Abu Mudiiruha atau ayah adalah kepala sekolahnya. Al-Ummu Madrasatul Ula Wal Abu Mudiiruha (Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya dan Ayah adalah kepala sekolahnya). Saya menyadari, bahwa maqola sederhana ini, bagaikan kalimat mantra yang terikat erat. Sehingga tidak akan berfungsi maksimal salah satu mantranya jika tidak dibersamai kalimat mantra selanjutnya.
Era ini sebagian orang, keluarga, bahkan pendidik sangat mengagung-agungkan maqola Al-Ummu Madrasatul Ula. Maqola ini pun dijadikan prinsip yang digenggam erat oleh sebagian pendidik. Sayangnya, peran ibu sebagai Al-Ummu Madrasatul Ula dalam keluarga hampir selalu tidak dibersamai peran ayah sebagai Wal Abu Mudiiruha. Secara sederhana, saya memberikan perumpamaan terhadap Al-Ummu Madrasatul Ula Wal Abu Mudiiruha, yakni ayah sebagai kepala sekolahnya, ibu sebagai gurunya, dan keluarga sebagai lembaga pendidikannya. Dari sini dapat kita lihat bahwa, justru tanggung jawab utama memberikan pendidikan terhadap keluarga adalah tugas seorang ayah.
Memaksimalkan peran ayah sebagai Wal Abu Mudiiruha dalam keluarga tidak sebatas memberikan nafkah berupa sandang, pangan, dan papan. Disamping daripada ketiga hal tersebut, ayah juga berperan penting memberikan pendidikan terhadap anak. Dalam Al-Qur'an, peran ayah terhadap pendidikan anak telah dijelaskan secara rinci. Salah satu kisah yang menunjukkan bahwa memberikan pendidikan terhadap anak dalam keluarga merupakan tanggung jawab utama seorang ayah adalah pada QS. Maryam ayat 3-6. Pada ayat tersebut, dikisahkan tentang Nabi Zakaria dalam membentuk jati diri Yahya pada pendidikan prenatal. Pendidikan prenatal adalah pendidikan yang diberikan sebelum anak lahir. Melalui doa dan harapan Nabi Zakaria pada Tuhan-nya.
فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا
Artinya: “Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.” (QS Maryam [19] ayat 11)
Keteguhan Nabi Zakaria dalam bermunajat pada Allah agar dianugerahkan seorang anak yang saleh dan patuh pada Allah kemudian dijawab dengan lahirnya seorang Yahya. Yahya yang penuh hikmah dan kebijaksanaan. Sejatinya, pendidikan prenatal yang diberikan Zakaria terhadap Yahya menyadarkan kita bahwa sosok ayah dalam memberikan pendidikan begitu penting dan tak tergantikan, bahkan sebelum anak itu lahir.
Pada QS Yusuf ayat 86 juga dikisahkan peran utama seorang ayah dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya.
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Yusuf [12] ayat 86)
Pendidikan yang diberikan oleh Nabi Yakub terhadap anaknya pada QS Yusuf (86) merupakan pendidikan tauhid. Pendidikan tauhid adalah fondasi utama dalam pendidikan Islam. Dengan pendidikan tauhid, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa pada Allah.
Pada ayat diatas, Nabi Yakub mengajarkan pendidikan tauhid kepada anaknya dengan cara mengadukan kesusahan dan kesedihannya pada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yakub senantiasa berserah diri kepada Allah dan tidak berputus asa atas cobaan yang datang padanya. Pendidikan tauhid sebagai fondasi utama dalam pendidikan Islam, sejatinya menjadi bekal bagi anak untuk menjalankan kehidupan yang baik dan benar.
Disamping itu, perlu diketahui bersama bahwa dalam Al-Qur'an, dialog ayah dan anak adalah sebanyak 17 kali, sedangkan dialog ibu dan anak adalah sebanyak 2 kali. Ini menunjukkan bahwa ayah memiliki peran penting dan utama dalam memberikan pendidikan pada anak. MEMAKSIMALKAN PERAN AYAH SEBAGAI WAL ABU MUDIIRUHA Dalam Al-Qur'an, Allah dengan detailnya memberikan tauladan bagaimana menjadi orang tua yang baik melalui kisah para nabi, kisah Luqman, dan wanita-wanita mulia.
Tanggung jawab ayah sebagai Wal Abu Mudiiruha ternyata bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana disekolah, kepala sekolah merupakan inti daripada berjalan dengan baik atau tidaknya sistem pendidikan disekolah tersebut. Dengan ini, ayah membentuk kurikulum terbaik untuk keluarga, menentukan visi misi terbaiknya, mengajarkan makna ketuhanan pada anak yang kelak menjadi bekal kehidupan sianak hingga ia kembali pada Tuhannya. Demikian peran ibu sebagai Al-Ummu Madrasatul Ula, ia akan senantiasa menjadikan Wal Abu Mudiiruha sebagai tauladan, menjalankan perintah kepala sekolahnya dengan baik, mendidik anak agar mampu beriqro dengan bijaksana, mendidik anak agar menjadi hamba yang cerdas dan berperasaan yang dirindukan Islam.
Demikian, tugas mendidik anak telah jelas. Bahwa pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab ibu saja sebagaimana kondisi kebanyakan keluarga pada saat ini. Tapi juga menjadi tugas utama seorang ayah.
Saya merupakan mahasiswa S1 jurusan Pendidikan Agama Islam pada salah satu perguruan tinggi di Jayapura. Hingga saat ini saya masi belajar agar menjadi Al-Ummu Madrasatul Ula yang kelak bisa dibanggakan. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Wal Abu Mudiiruha terbaik.
Wallahua'lam Bissawwab.
Komentar
Posting Komentar